Majalah Sandi edisi XXXV
Topik utama pada
majalah Sandi edisi XXXV adalah tentang “Inovasi Pelayanan Pertanahan”.
Topik ini kami pilih karena urgensinya. Topik ini didukung dengan
berbagai tulisan yang mendukung bahwa telah dilaksanakan berbagai
perubahan dalam diri kelembagaan BPN RI dalam hal pelayanan. Seperti:
liputan layanan prima yang ada di Kantor Pertanahan Kabupaten Tangerang,
liputan pada Kantor Wilayah Provinsi Banten tentang dukungan kanwil
terhadap inovasi pelayanan pada kantah, wawancara redaksi Sandi dengan
Ketua STPN tentang arah STPN dalam mendukung 'tertib moral' Sapta Tertib
Pertanahan. Kami juga menyajikan tentang wacana kadaster 2014,
pengukuhan pengurus daerah Kapti Agraria di berbagai wilayah, ulasan
tentang pembukaan dan kuliah perdana program pendidikan khusus PPAT, dan
beberapa liputan di kampus Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional, dll.
harga Per exp: 23rb (belum termasuk ongkos kirim, jasa kirim memakai Kantor Pos)
Untuk Pemesanan: CP 081317741431 (Lutfi Maulana)
Sementara pemesanan diindent dulu. Ongkos kirim nanti mengikuti harga kirim kantor Pos. Terimakasih atas perhatiannya.
1.10.13
29.9.13
Dengan tema "Dari Alumni untuk Almamater Menuju Center of Excellence Dilandasi Jiwa UUPA dan Semangat Sapta Tertib dan Sapta Pembaharuan, STPN dan Kapti Agraria Bertekad Meningkatkan Dharma Baktinya untuk Penguatan Kelembagaan Pertanahan Menuju Terwujudnya Tanah untuk Sebesar-besar Kemakmuran Rakyat" STPN mengadakan berbagai kegiatan untuk memperingati tahun emas pendidikan tinggi agraria di tahun 2013 ini.
5.4.12
Akan terbit majalah SANDI edisi XXXIV bertemakan tentang Reformasi Birokrasi; liputan tentang Munas kapti Agraria tahun 2012 dan informasi pertanahan terbaru lainnya. Bagi yang berminat silakan memesan..
8.3.12
6.3.12
Aspek Keadilan Sosial Pembangunan Rumah Susun Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Aspek
Keadilan Sosial Pembangunan Rumah Susun Bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR)
Oleh: Karyono, Nurhafiati, Adi Rustam, Yudi Miharman, dan Y. Aam Enita
Pembangunan perumahan dan kawasan permukiman merupakan indikator
penting dalam menyangga peradaban manusia. Ini karena kondisi masyarakat dalam
bermukim dapat menjadi tolok ukur kesejahteraan masyarakat. Pemerintah juga
menjadikan pembangunan perumahan dan kawasan permukiman sebagai program
nasional untuk mewujudkan rumah layak huni bagi setiap keluarga di Indonesia.
Pengesahan Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun merupakan
bukti keseriusan politik pemerintah, khususnya dalam pembangunan perumahan di
daerah-daerah yang ketersediaan lahannya terbatas.
Perkembangan
jaman dan semakin bertambahnya jumlah rumah susun yang telah dibangun tidak
terlepas dari permasalahan yang terjadi pada suatu komplek hunian rumah susun,
sehingga menuntut partisipasi dan peran serta pemerintah untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada. Oleh karena itu, pemerintah menerbitkan Undang-Undang
No. 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun sebagai pengganti Undang-Undang No. 16
Tahun 1985 tentang Rumah Susun sekaligus sebagai jawaban atas sebagian
permasalahn rumah susun yang sedang berkembang. Hal ini bisa dilihat pada
konsideran “Menimbang” undang-undang tersebut point e, “Bahwa
Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1985 tentang Rumah Susun sudah tidak sesuai dengan
perkembangan hukum, kebutuhan setiap orang, dan partisipasi masyarakat serta
tanggung jawab dan kewajiban Negara dalam penyelenggarakan rumah susun perlu
diganti”.
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2011 merupakan penegasan politik
hukum nasional di bidang perumahan, sekaligus mencerminkan keberpihakan
pemerintah dalam memberikan kepastian bermukim bagi masyarakat, khususnya yang
berpenghasilan menengah ke bawah. Undang-undang ini diharapkan dapat menjawab
tantangan dalam pembangunan perumahan di Indonesia, terutama terkait masalah
kekurangan pasokan rumah (backlog) yang saat ini mencapai 7,4 juta unit
2.3.12
MENGAPA HARUS BERORGANISASI ? (Diterbitkan pada Majalah Sandi Edisi XIII)
MENGAPA HARUS
BERORGANISASI ?
By. Agustyaryah *)
Organisasi
merupakan alat yang sangat dibutuhkan dalam masyarakat kita, sebagian
masyarakat kita menganggap bahwa organisasi hanya sebagai alat untuk
menyediakan barang dan jasa saja. Sebenarnya organisasi menciptakan juga lingkungan
tempat kehidupan kita dan mempunyai pengaruh besar terhadap perilaku. Atas dasar
itulah di bawah ini akan diulas sedikit tentang kenapa kita berorganisasi. Ada beberapa
hal yang mengharuskan kita berorganisasi, diantaranya :
a. Karena di saat-saat
awal kita diterima bekerja, paling maksimal kita ditempatkan pada level tengah,
bukan langsung dilevel puncak, untuk itu komunikasi, dedikasi dan lainnya yang akan
mendukung kita ke level puncak tidak akan datang dengan cepat dan begitu saja, tetapi
melalui sebuah proses, dan proses tersebut cepat atau lambat tergantung dari pengalaman
berorganisasi.
b. Guna menjawab
"apakah pemimpin-pemimpin yang baik dilahirkan atau dibuat ?
1.3.12
29.2.12
Sukseskan 11 Agenda Kebijakan BPN RI
28.2.12
Rahasia di balik Penyusunan UUPA; Prof. Boedi Harsono (SANDI Edisi XXVII)
Kategori:
Majalah Sandi EDISI XXVII,
Prof. Boedi Harsono,
UUPA
27.2.12
Reformasi Birokrasi di Negeri "Singa"
“Singapore remained the best with a rating of 2.25, followed by Hong Kong (3.53), Thailand (5.25) Taiwan (5.57), Japan (5.77), South Korea (5.87) and Malaysia (5.89).”[1] Singapura kembali lagi dinobatkan menjadi salah satu negara terbaik bagi birokrasi dalam hal efisiensi, pelayanan masyarakat, dan iklim investasi (hasil survey Political & Economic Risk Consultancy (PERC) 2012). Tidak hanya itu. Singapura juga menjadi contoh yang baik dalam hal disiplin aparat birokrasi dan penerapan ’’reward and punishment’’ bagi pegawainya.[2] Padahal pada tahun 1959 ketika Lee Kuan Yew diangkat sebagai Perdana Menteri, Singapura yang memiliki luas wilayah hanya 400 km persegi sedang dalam kondisi carut marut dengan pengangguran mencapai 14%. Saat itu tak ada yang dapat diperbuat,
ARAH BELAJAR
Definisi belajar menurut W.S.Winkel adalah suatu aktifitas mental/ psikis yang berlangsung dengan interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan- perubahan dalam pengetahuan –pemahaman, keterampilan dan nilai –sikap.” [1]
Perubahan tentang pemahaman –kognitif, ketrampilan –psikomotorik dan nilai –sikap terjadi karena aktifitas mental/ psikis, bukan hanya aktifitas fisik. Jadi, adakalanya sesorang nampak seperti belajar namun sebenarnya bukan belajar. Sebagai contoh seorang siswa yang mencatat pelajaran sejarah di kelas, belum tentu dia sedang belajar ilmu sejarah saat itu. Hal itu terjadi karena siswa hanya melakukan aktifitas mencatat, menulis apa yang dia baca di papan tulis tanpa proses pemikiran ataupun penganalisaan. Lalu apakah kegiatan tersebut sia- sia? Tentu tidak, sebab tidak bisa diabaikan proses belajar yang lain. Tidaklah mungkin manusia normal beraktifitas tanpa keterlibatan faktor psikis, tanpa perasaan ataupun kesadaran. Bentuk belajar yang lain itu bisa berupa belajar rajin, sabar, tekun dan rapi memindahkan catatan dari papan tulis ke buku pribadi.
Menjadi tugas yang tidak mudah dilaksanakan untuk setiap pendidik –guru- melibatkan faktor mental/ psikis tiap anak didiknya dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Setidaknya ada beberapa point yang harus dipenuhi; yaitu mengetahui motivasi tiap muridnya, memahami tujuan pembelajaran dan membangun motivasi yang diharapkan. Pemahaman tujuan pembelajaran menjadikan motivasi dan arah seorang guru untuk mengajar. Sedangkan kemampuan guru
Badan Pers Mahasiswa SANDI : OPTIMIS
“Sehebat apapun suatu kepengurusan, tanpa kaderisasi bagai
orang tua tanpa anak
-mandul”
Dua
Puluh (20) dari Tujuh Puluh Sembilan (79) mahasiswa baru (D.IVSTPN-red) menjadi
CALON ANGGOTA Badan Pers Mahasiswa (BPM) SANDI. Rabu malam, 12 Oktober kemarin,
mereka mengikuti PERTEMUAN BERKALA di ruang Audio Visual STPN dengan agenda :
1.
Penyambutan dan Perkenalan Calon Anggota BPM SANDI
2.
Penggalian Awal “Jati Diri” BPM SANDI
Hadir
dalam pertemuan tersebut :
- Pimpinan Redaksi (Antonius Bagus Budi
Pradana-Tk.IV),
- Redaktur Pelaksana (Dery Arya Pandika-Tk.IV),
- Redaktur KAPTI (Ni Putu Ari-Tk.III)
- Sekretaris Umum (Heri Setiaji-Tk.IV),
- Bidang Humas & Kerjasama (M. Yusuf Ganda
Mustika-Tk.IV),
- Bidang Kaderisasi (Jerry Haposan-Tk.III).
Tepat pukul 19.30 WIB di buka dengan pengarahan sekilas tentang BPM
SANDI oleh Pimpinan Redaksi yang akrab dipanggil Mas Bagus. Diuraikannya
sejarah BPM SANDI, kedudukan dan perannya dalam organisasi kemahasiswaan di
kampus, struktur organisasi hingga kegiatan BPMSANDI.
Selanjutnya disambung oleh Redaktur Pelaksana, Dery Arya Pandika yang
mencoba memotivasi calon anggota baru. Mengapa perlu bergabung dengan dalam
BPMSANDI? Apa yang dapat dilakukan setelah terlibat di dalamnya?
NGONO YO NGONO tapi OJO NGONO
orlando2010 menulis on Apr 21
begitu ya begitu, tp jangan begitu ... scr harafiah,
ia mengisyaratkan agar kita sbg manusia bertindak dgn baik,
benar dan tidak berlebihan ... artinya,
wajar-wajarlah saja dlm bertindak dan berperi-laku ... :-)
Ya itu pepatah jawa yang kuat2 aku inget (dan juga anda yang ngaku orang jawa,
atau punya istri/ suami orang jawa, ato berharap jadi mantu orang jawa),
"kalau terpaksa nyimpang,
PASANG SURUT ORGANISASI KEMAHASISWAAN
Mahasiswa STPN luangkan waktu tuk berorganisasi, bukan
berorganisasi tuk mengisi waktu luang.
Berorganisasi merupakan suatu pilihan.
Pilihan adalah kebebasan dan kebebasan berujud tanggung jawab.
Memilih berarti menentukan kredibilitas, yaitu kapasitas memilih pemilih dan kemampuan memilih.
Kualitas seseorang dapat dilihat dari barang -organisasi- yang dipilihnya.
Sebaliknya jika seseorang salah memilih maka dipertanyakan penilaiannya.
Faktanya tidak sedikit mahasiswa yang awalnya bersemangat berorganisasi, namun
tidak aktif hingga akhir.
Menurutku,
Subscribe to:
Posts (Atom)






